Berdirinya Israel, Derita Palestina

72

Tekape.id – Di puncak bukit di Galilea utara, sebuah gereja kecil berdiri sendiri dikelilingi oleh puing-puing. Ini adalah bangunan terakhir yang tersisa dari desa Iqrit Palestina, yang ditinggalkan penduduknya dan dihancurkan, setelah berdirinya negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948.

“Tempat ini sangat berarti bagi kami, ini mengingatkan kami dari mana kami berasal,” kata Samer Toume, yang kakek-neneknya berada di antara 600 orang Kristen yang diusir dari Iqrit oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) hampir tujuh dekade lalu.

Kisah Iqrit mirip dengan yang ada di 530 desa lainnya yang dihancurkan hingga rata dengan tanah, dalam proses yang kemudian dikenal dunia sebagai pembentukan Israel—dan bagi Palestina sebagai “Nakba,” kata Arab untuk “bencana.”

Orang Yahudi Eropa pertama mendarat di pantai Palestina dan mendirikan permukiman awal pada abad ke-19. Pada tahun 1948, pasukan Zionis secara sistematis mengambil alih tanah, mengusir orang-orang dari rumah mereka, dan mengusir banyak orang untuk hidup sebagai pengungsi di daerah kantong yang terisolasi.

Berdirinya Israel berakar pada proyek kolonial yang telah memodernisasi wajahnya tetapi terus menjadikan warga Palestina subjek dalam pendudukan militer, perampasan tanah, dan hak yang tidak setara. Tujuh puluh tahun kemudian, luka akibat Nakba masih terbuka, seiring Israel melarang lebih dari lima juta pengungsi hak untuk kembali—sementara menjamin kewarganegaraan bagi siapa saja yang dapat menunjukkan keturunan Yahudi.

“Israel tidak membiarkan masyarakat Palestina kembali ke tanah mereka. Di Iqrit, kami hanya diizinkan untuk kembali sebagai orang mati untuk dikuburkan di sini,” Samer (28 tahun) menegaskan, menunjuk pada sebuah pemakaman tidak jauh dari gereja. Kegiatan lain seperti membangun kembali rumah-rumah yang dibongkar atau menanam tanaman, tetap ilegal.

Pemukiman ilegal Israel yang merupakan bagian dari upaya pemindahan penduduk sipil oleh pemerintah ke wilayah yang diduduki.

Hampir enam tahun yang lalu, bagaimanapun, anggota generasi ketiga penduduk pengungsi Iqrit, memutuskan untuk menentang aturan yang membuat mereka terpisah dari tanah mereka dan mulai menghidupkan kembali desa.

“Melalui sistem rotasi bergilir, kami terus-menerus hadir di sini. Pada siang hari, kami pergi ke tempat kerja kami di kota-kota di daerah tersebut, dan kemudian kembali ke Iqrit,” kata Samer, yang bekerja di bagian medis di kota Haifa. “Kami juga mengadakan pertemuan akhir pekan dan kamp musim panas tahunan untuk melibatkan warga dari generasi yang lebih muda dan lebih tua.”

“Kami ingin menjaga memori Iqrit tetap hidup.”

Halaman 1 2 3

Berita Terkait
close