Ustadz Adi Hidayat Bermimpi Bertemu Rosul

27

Ustadz Adi Hidayat Bermimpi Bertemu Rosul – Kerap ditamsilkan, bahwa mimpi, konon sekedar bunga tidur. Namun lebih dari, salah satunya bermula dari mimpi, maka publik Indonesia mutakhir bisa mengenal sosok da’i usia 32 tahun yang cerdas, mendalam, dan banyak jamaahnya: Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA.

Kok bisa? Saat duduk di bangku kelas 5 SDN, pada kampung halamannya di Pandeglang, Provinsi Banten, Adi suatu hari bermimpi bertemu Rasulullah SAW.

Dalam wajah nabiyyuna yang bening dan tersenyum, mimpi pertemuan ini berlansung di mushala ayahnya yang sehari-hari mengajar agama Islam di luar aktivitas kesehariannya.

“Saya lalu ceritakan ke orang tua, saat itu sebetulnya sudah bersiap masuk SMP negeri favorit dan mereka pun sudah menunggu, SMP 1 Pandeglang. Namun setelah mimpi tersebut, saya dan orangtua bertekad fokus ke agama sehingga setelah SD, enam tahun sampai tamat SMA, meneruskan di Pesantren Darul Arqom, Garut,” katanya membuka percakapan setelah mengisi kajian Fikh Ikhtilaf di Mesjid Arrahman, Kota Baru Parahyangan, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat, Ahad (23/07/2017).

Bukan satu dua orang, namun lebih dari ratusan orang rela berdiri mendengar ceramahnya. Di selasar depan menuju ruangan utama Mesjid Salman ITB, persis seberang toilet, hingga taman rumput depan mesjid legendaris.

Mereka berdiri karena kapasitas utama ruangan sudah terisi, baik untuk jamaah lelaki (ikhwan) maupun perempuan (akhwat). Beruntung, sejumlah layar tambahan, membuat mereka tetap bisa menyimak ceramah Ustadz Adi Hidayat, Ahad (23/7/2017) siang mulai jam 10.00 hingga waktu shalat Dzuhur.

Sebelumnya, di perumahan elit terluas di Bandung Raya, Kota Baru Parahyangan, bahkan sejumlah jamaah sengaja datang dari Bekasi dan Jakarta. Beberapa diidentifikasi penceramah pintar dan kuat ingatan itu sebagai mustami’ yang kerap mengikuti kemanapun dirinya mengisi kajian.

Tanpa itupun, terutama masyarakat Bandung itu sendiri, penuh sesak hadiri terlihat sejak Ahad dinihari. Untuk parkir mobil saja melimpah sampai ke jalan utama dua baris panjang di sepanjang jalan protokol depan bangunan Bale Barli tersebut.

Dua tenda besar yang disediakan panitia di luar area mesjid tak cukup pula. Mendadak dihamparkan terpal plastik. Minat tinggi tersebut selain untuk ikut Mabit (Malam Bina Iman Takwa) berupa shalat malam dipimpin imam muda hafidz, juga mengejar spot terenak ikuti kajian Ustadz Adi Hidayat dari bada subuh hingga jam 7 pagi.

Kisah lain menarik tercatat di Way Halim, sebuah kecamatan di Lampung. Awal mula isi kajian di sana, jamaah hanya 40 orang. Setelah makin tahu dalamnya ilmu, meningkat ratusan orang padahal kapasitas mesjid tak memadai. Setelah direnov, bisa pula menampung hingga 4.000 orang. Ini pun tetap tak cukup.

Halaman 1 2 3

Berita Terkait
close